Pages

March 01, 2015

Cangkir - Cangkir Kopi

(Kisah Pengembangan Kecerdasan Sosial)
Merupakan tradisi baik di beberapa perguruan tinggi dan sekolah di Amerika untuk mengundang alumninya pada suatu kesempatan reuni. Pada saat itulah mereka saling bercerita keadaan mereka satu sama lain. Siapa diantara mereka yang sukses dalam karier, siapa yang menikah, siapa yang melahirkan dan sebagainya.

Setelah beberapa tahun meninggalkan bangku perkuliahan dan sedah mendapatkan kesuksesan, jabatan, kemapanan sosial, dan status sosial yang tinggi, beberapa alumni perguruan tinggi tersebut berkumpul di rumah salah seorang dosen mereka yang sudah tua.

Setelah acara sambutan dan basa-basi, masing-masing dari mereka mulai membicarakan pekerjaan dan kesuksesan kehidupan mereka sampai meremehkan satu dengan yang lain.
Sejenak dosen tersebut menghilang, kemudian kembali dengan membawa sebuah teko berisi air kopi. Ia juga membawa beberapa cangkir dengan berbagai bentuk dan warna, ada cangkir indah buatan Cina, ada yang terbuat dari melamin, ada yang terbuat dari tembikar biasa, dan ada yang terbuat dari plastik dan kristal. Sebagian dari cangkir tersebut adalah cangkir mewah dengan warna yang bermacam-macam. Sebagian harganya sangat mahal dan sebagian lagi dapat ditemukan di rumah-rumah yang sangat miskin.

Dosen tersebut berkata kepada para mantan mahasiswanya, “Silahkan masing-masing diantara kalian menuangkan kopinya sendiri-sendiri!” Ketika mereka memegang cangkir mereka masing-masing, dosen tersebut berkata, “Apakah hanya cangkir bagus yang menyita perhatian kalian, sementara kalian sama sekali tidak memperhatikan cangkir yang biasa-biasa saja?, inilah yang menyebabkan diantara kalian meremehkan satu dengan yang lainnya, padahal sebenarnya yang kalian butuhkan adalah kopi, bukan cangkir! Namun kalian tertipu dengan cangkir yang mewar dan mahal. Kemudian aku perhatikan kalian menginginkan cangkir yang ada di tangan orang lain!”

@Naif Abdurrahman Al-Zuraiq

0 comments:

Post a Comment